Imigrasi Soetta Siapkan Mitigasi Penanganan Penumpang Dampak Konflik di Timur Tengah

(Foto:Humas Imigrasi Soekarno-Hatta)
Tangerang, KORANTRANSAKSI.com - Dampak konflik di Timur Tengah yang sempat memicu kepadatan arus penumpang di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, membuat Imigrasi setempat membuat mitigasi penanganan.

Dalam hal ini, Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta menyiapkan segala kemungkinan yang ada. Termasuk adanya potensi warga negara asing (WNA) yang mengalami overstay, akibat terganggunya jadwal penerbangan dan rencana kedatangan puluhan ribu jamaah umrah dari Arab Saudi.

Kepala Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Soekarno-Hatta Galih Priya Kartika Perdhana menjelaskan, pada hari-hari awal pecahnya perang di Timur Tengah situasi di bandara sempat terjadi kepadatan. Sejumlah penerbangan menuju dan dari kawasan terdampak terpaksa dibatalkan atau ditunda, sehingga banyak WNA yang sudah berada di bandara tidak dapat segera kembali ke negara tujuan.

“Pada awal kejadian memang cukup padat karena banyak penerbangan terganggu. Bagi WNA yang sudah proses clearance keberangkatan namun batal terbang, kami batalkan clearance-nya dan izin tinggalnya dikembalikan ke izin tinggal semula,” ujar Galih.

Lebih lanjut Galih menambahkan, terkait izin tinggal yang habis masa berlakunya atau berpotensi overstay, Imigrasi mengacu pada surat edaran pelaksana tugas Dirjen Imigrasi tahun 2025. Dalam aturan tersebut, WNA yang terdampak situasi atau keadaan darurat dapat diberikan izin tinggal dalam kondisi terpaksa (darurat).

“Terhadap mereka tidak dikenakan denda, atau Rp 0. Jadi tidak ada sanksi administratif overstay selama memenuhi kriteria dalam surat edaran tersebut,” bebernya.

Dia juga mengungkapkan, sempat terdapat beberapa WNA yang mengalami overstay dua hingga tiga hari akibat pembatalan penerbangan. Namun, sesuai ketentuan, mereka tetap diberikan relaksasi tanpa denda.

Saat ini, kondisi di Bandara Soekarno-Hatta disebut sudah berangsur landai seiring dengan notifikasi pembatalan penerbangan yang telah tersampaikan jauh hari dari jadwal penerbangan. Meski demikian, Imigrasi tetap siaga dan berkoordinasi dengan kementerian serta otoritas terkait.

Siapkan Skenario

Imigrasi juga mulai mengantisipasi potensi lonjakan kedatangan jemaah umrah. Tercatat lebih dari 58 ribu jemaah umrah tiba dari Tanah Suci dalam periode terakhir. "Untuk mengantisipasi gelombang kedatangan bersamaan, Imigrasi menyiapkan 52 autogate dan 12 konter manual yang akan dioperasikan penuh guna memastikan proses pemeriksaan berjalan lancar," ungkap Galih.

Menurutnya, jika terjadi kedatangan dalam jumlah besar secara bersamaan, seluruh autogate dan konter manual akan dioperasikan penuh. Hingga kini, pihaknya belum menerima informasi resmi terkait kemungkinan puluhan ribu jemaah umrah yang tertahan di Arab Saudi akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat, Israel dan Iran.

"Kami masih menunggu informasi lanjutan dari Kementerian Luar Negeri serta Kementerian Haji dan Umrah, termasuk otoritas terkait lainnya," ucap Galih. (TIM/RED)

 

 

Posting Komentar

0 Komentar