Kenali Gejala Virus Nipah?

(Foto:Ilustrasi Tabung Reaksi Positif Virus Nipah)
Jakarta, KORANTRANSAKSI.com – Demam tinggi yang muncul mendadak, disertai dengan gangguan pernapasan hingga penurunan kesadaran tidak boleh dianggap sepele. Salah satu penyakit infeksi langka namun beresiko tinggi yang perlu diwaspadai adalah Virus Nipah. Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia, potensi penularannya tetap menjadi perhatian karena sifat virus yang mematikan dan kemampuan menyebar dari hewan ke manusia.

“Penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal. Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal,” Dokter Spesialis Penyakit Dalam Bethsaida Hospital Gading Serpong Timoteus Richard dalam keterangan pers yang diterima Tim KORANTRANSAKSI.com.

Virus Nipah sendiri adalah penyakit infeksi akibat virus Nipah (NiV), yaitu virus RNA dari kelompok Paramyxovirus. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada tahun 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama pada peternakan babi.

Virus Nipah tergolong penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah, sementara hewan perantara seperti babi dapat mempercepat penyebaran ke manusia.

"Infeksi Virus Nipah dapat menyerang berbagai organ penting, terutama saluran pernapasan dan sistem saraf, sehingga berisiko menyebabkan gangguan berat hingga kematian," kata Timoteus.

Apakah Virus Nipah Bisa Menjadi Wabah? Potensi wabah Virus Nipah tetap ada, terutama karena beberapa faktor. Pertama karena Indonesia memiliki reservoir alami dan habitat kelelawar buah. Faktor kedua adalah karena belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik. Lalu faktor lain adalah adanya kemudahan akses perjalanan internasional termasuk ke negara dengan kasus Nipah (India, Bangladesh). Faktor terakhir adalah risiko imported case dari pelaku perjalanan.

“Walaupun belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap penting. Mobilitas global yang tinggi membuat risiko penyakit lintas negara tidak bisa diabaikan,” kata Timoteus.

Ada beberapa gejala Virus Nipah yang bisa dialami pasien. Gejala Virus Nipah biasanya muncul dalam waktu 5–14 hari setelah terpapar, namun pada beberapa kasus bisa lebih cepat atau lebih lambat. Gejala awal yang sering muncul adalah demam tinggi mendadak, sakit kepala berat, nyeri otot, mual dan muntah, hingga tubuh terasa sangat lemas.

Jika kondisi memburuk, ada pula beberapa gejala berat seperti batuk dan sesak napas, gangguan pernapasan akut, penurunan kesadaran, kejang hingga radang otak (ensefalitis). “Gejala awal Virus Nipah sering menyerupai infeksi biasa. Namun, bila disertai penurunan kesadaran atau gangguan napas, kondisi ini harus segera ditangani di fasilitas kesehatan,” ujar Timoteus.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami koma dalam waktu singkat, sehingga penanganan medis segera menjadi sangat penting. Kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan berperan besar dalam mencegah dampak yang lebih luas dari penyakit infeksi berisiko tinggi ini.

Timoteus mengatakan di tengah mobilitas global yang semakin tinggi, kewaspadaan terhadap penyakit infeksi berisiko tinggi seperti Virus Nipah tetap penting, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus di Indonesia. "Pemahaman yang tepat, deteksi dini, dan kesiapan layanan kesehatan menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas," katanya.

Rumah sakit dengan layanan medis komprehensif, didukung tenaga kesehatan berpengalaman serta sistem penanganan penyakit infeksi yang terintegrasi, berperan penting dalam memastikan penanganan yang cepat, tepat, dan aman bagi pasien. Kesiapan rumah sakit tidak hanya diukur dari kemampuan menangani penyakit yang umum terjadi sehari-hari, tetapi juga dari kesiapan dalam mengantisipasi penyakit infeksi berisiko tinggi yang dapat muncul sewaktu-waktu.

"Deteksi dini, respons cepat, serta edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat menjadi fondasi utama kami dalam menjaga keselamatan dan kualitas hidup pasien,” kata Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong Margareth Aryani Santoso. (TIM)                                                              

 

Posting Komentar

0 Komentar