“Kunjungan ini bukan
sekadar agenda diplomatik rutin, melainkan mencerminkan kesungguhan Indonesia
dan Australia untuk menjaga dan memperkuat hubungan yang sudah terbangun lama,
terutama dalam bidang hukum, keimigrasian, dan penanganan berbagai persoalan
lintas negara yang semakin kompleks,” ujar Yusril.
Lebih lanjut Yusril mengungkapkan, kerja sama antarnegara kerap menghadapi tantangan berupa perbedaan regulasi, norma hukum, dan prosedur administratif. Meski demikian, kata dia, komunikasi yang terbuka serta hubungan baik antarpemimpin dan institusi menjadi faktor penting dalam menjembatani berbagai perbedaan tersebut.
“Pengalaman menunjukkan
bahwa iktikad baik dan komunikasi yang erat sering kali menjadi kunci untuk
menyelaraskan berbagai kendala normatif yang ada,” ungkapnya.
Menko turut
menyampaikan perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap isu abolisi, amnesti,
grasi, dan rehabilitasi, termasuk kemungkinan kerja sama pemulangan narapidana
warga negara Indonesia yang berada di luar negeri melalui perjanjian dengan
negara terkait. Indonesia saat ini telah melakukan pembahasan awal dengan
sejumlah negara, salah satunya Filipina.
Sementara itu, Menteri
Dalam Negeri, Imigrasi, Kewarganegaraan, Keamanan Siber, dan Seni Australia
Tony Burke menyambut baik penguatan kerja sama kedua negara dan menegaskan
komitmen Australia untuk terus bekerja erat dengan Indonesia.
“Australia memandang
Indonesia sebagai mitra utama di kawasan. Kerja sama di bidang imigrasi,
penegakan hukum, dan mobilitas masyarakat memiliki arti penting bagi kedua
negara dan kami ingin memastikan kolaborasi ini semakin kuat ke depan,” kata
Burke.
Pertemuan menegaskan
komitmen kedua negara dalam menghadapi berbagai tantangan lintas negara di
bidang hukum, hak asasi manusia, imigrasi, dan pemasyarakatan.
Sejumlah isu strategis
menjadi fokus pembahasan, antara lain apresiasi terhadap kerja sama
Indonesia–Australia di bidang imigrasi yang telah berjalan baik, peluang
penguatan kerja sama ke depan, serta komitmen bersama dalam menanggulangi
penyelundupan manusia melalui pendekatan kolaboratif yang menyeimbangkan aspek
keamanan dan kemanusiaan.
Kegiatan turut membahas nilai strategis program Working Holiday Visa bagi generasi muda kedua negara, termasuk harapan agar program tersebut terus berjalan secara optimal. Perwakilan Direktorat Jenderal (Ditjen) Imigrasi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan menyampaikan program Working Holiday Visa mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat Indonesia.
Evaluasi juga telah
dilakukan terkait kendala teknis pada pembukaan sebelumnya akibat tingginya
lalu lintas pendaftar. Ke depan, Ditjen Imigrasi berharap kendala tersebut
dapat diantisipasi dengan lebih baik serta adanya peluang penambahan kuota
permohonan dari Indonesia ke Australia.
Melalui pertemuan itu,
Kemenko Kumham Imipas RI menegaskan komitmen untuk terus mendorong sinergi yang
lebih erat antara Indonesia dan Australia dalam menciptakan tata kelola hukum
dan keimigrasian yang adaptif, humanis, dan responsif terhadap tantangan
global. (RED)





0 Komentar