Imigrasi : “Imbas Banyak WNA Overstay, Kebijakan Visa On Arrival Akan Dievaluasi”

 

Direktur Jenderal Imigrasi, Silmy Karim (Foto:dok)
Jakarta, KORANTRANSAKSI.com - Visa on Arrival atau VoA memudahkan warga negara asing mendapatkan izin tinggal di suatu negara untuk keperluan singkat. Tidak terkecuali di Indonesia. Namun demikian, kebijakan tersebut sering disalahgunakan bagi mereka yang tidak bertanggungjawab.

Direktur Jenderal Imigrasi, Silmy Karim menekankan bahwa, imigrasi akan melakukan pengawasan dan penindakan secara teratur. Selama Periode Januari-Mei 2024, tercatat sebanyak 91 orang Warga Negara Asing (WNA) yang telah ditindak khusus di wilayah Kantor Imigrasi Ngurah Rai saja. “Dari jumlah tersebut, sebanyak 56 orang overstay, sedangkan untuk 35 lainnya tidak menaati peraturan yang sudah diberlakukan”, ucap Silmy Karim.

Lebih lanjut silmy menegaskan agar seluruh jajaran imigrasi segera melakukan operasi yang lebih besar secara berkala. Ia juga mengatakan pihak imigrasi akan menggalakan pengawasan dan melakukan evaluasi pemberian Visa On Arrival untuk warga negara tertentu yang sering membuat masalah. “Kita harus menjaga agar hanya pelintas yang berkualitas yang datang ke Indonesia,” kata Silmy.

Sementara itu, berdasarkan laporan Kantor Imigrasi Kelas I Khusus TPI Ngurah Rai, sebanyak 24 warga negara asing (WNA) karena tinggal melebihi izin batas (overstay). Mereka diciduk usai adanya laporan masyarakat yang masuk, kemudian Tim Intelijen dan Penindakan Keimigrasian (Inteldakim) Imigrasi Ngurah Rai kemudian melakukan patroli keimigrasian pada Selasa (28/5/2024) di kawasan Legian Kuta.

Kepala Kantor Imigrasi Ngurah Rai, Suhendra menjelaskan bahwa, pihaknya telah menerima pesan Whatsapp dari masyarakat yang melaporkan adanya WNA yang diduga overstay serta melakukan tindakan pidana berupa penipuan.

“Kami menerima laporan dari masyarakat  adanya WNA yang diduga overstay dan melakukan penipuan. Setelah dilakukan penyelidikan dan pengecekan pada SIMKIM (Sistem Informasi Manajemen Keimigrasian) tentang identitas dan lokasinya, kami bergerak untuk melakukan penanganan lebih lanjut”, tutur Suhendra.

Suhendra juga mengungkapkan jika dari hasil patroli, mereka diamankan adalah tiga warga negara Nigeria berinisial ACP (Lk, 23), FEO (Lk, 33), dan OIC (Lk, 35). Berdasarkan hasil pemeriksaan, diketahui bahwa ketiga WNA tersebut telah overstay lebih dari 60 hari. “Mereka langsung dibawa ke Kantor Imigrasi Ngurah Rai,” jelas Suhendra.

Selain warga Nigeria, Tim Inteldakim juga melakukan pengawasan lanjutan, pada Rabu (29/5) yang juga mengamankan 21 warga negara asing, mereka terdiri dari 19 warga Nigeria, 1 warga Ghana dan 1 warga Tanzania. Mereka diketahui telah overstay dan sembilan di antaranya tidak dapat menunjukkan dokumen perjalanan (paspor).

“Berdasarkan Pasal 78 UU No. 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, WNA yang overstay akan dideportasi serta dicekal. Namun, apabila pada saat dilakukan pendalaman mereka terbukti melakukan pidana, maka akan kami lakukan projustitia,” tambah Suhendra.

Suhendra memastikan, dalam pelaksanaan fungsi pengawasan keimigrasian, unit pelaksana teknis imigrasi di seluruh Indonesia rutin melakukan operasi yang dikoordinasikan langsung oleh Direktorat Jenderal Imigrasi melalui Direktorat Pengawasan dan Penindakan. “Beberapa operasi pengawasan keimigrasian tersebut antara lain operasi Bali Becik, operasi Jagratara dan operasi gabungan (opsgab),” Suhendra menandasi. (ZIK)


Posting Komentar

0 Komentar