![]() |
| (Foto:Ilustrasi Pengisian Bahan Bakar Minyak) |
Kepolisian Nasional
Filipina melaporkan bahwa sebanyak 365 SPBU telah berhenti beroperasi akibat
keterbatasan pasokan bahan bakar. Selain itu, otoritas juga menemukan tujuh
kasus penimbunan dan praktik pengambilan keuntungan berlebihan terkait
distribusi bahan bakar. Demikian sebagaimana dilaporkan oleh Kantor Berita
Filipina (PNA).
Pemerintah di Manila
menetapkan status darurat nasional setelah pasokan minyak dari Timur Tengah
mengalami penurunan. Situasi ini terjadi karena Iran secara efektif
mengendalikan Selat Hormuz, di tengah konflik antara Amerika Serikat (AS) dan
Israel melawan Teheran yang telah memasuki bulan kedua.
Untuk mengatasi
kekurangan pasokan, Filipina telah membeli sebanyak 2,48 juta barel minyak
mentah dari Rusia. Filipina mengimpor sekitar 90 persen kebutuhan energi,
dengan total pengeluaran mencapai sekitar USD 16 miliar untuk minyak pada tahun
2024, yang sebagian besar berasal dari Timur Tengah.
Di tengah krisis energi yang melanda, Presiden Ferdinand Marcos Jr. menyatakan bahwa pemerintah Filipina terbuka untuk melanjutkan kembali pembicaraan dengan China terkait proyek bersama eksplorasi minyak dan gas di wilayah Laut China Selatan yang masih disengketakan. "Hal itu sudah lama kami bicarakan, tetapi sengketa wilayah menjadi penghambat utama," ujar Marcos.
Hubungan antara Manila
dan Beijing sendiri masih diwarnai ketegangan akibat klaim yang tumpang tindih
di perairan sengketa tersebut. (TIM)





0 Komentar