![]() |
| (Foto: Humas BEM Universitas Indonesia) |
Beberapa dari mereka
ada yang membuat atribut aksi dari spanduk bertuliskan, "INDONESIA
GELAP", "APARAT KEPARAT", "POLISI PEMBULLY", "
REFORMASI POLRI" dan lainnya.
Saat ini, setidaknya sudah ada 10 bus dan satu mobil pick up dengan pengeras suara yang dihias spanduk merah putih bertuliskan "Suara Rakyat" sudah terparkir di Lapangan FISIP UI. Sementara itu, Ketua BEM UI Yatalathof Ma'shum Imawan mengungkapkan aksi ini berangkat dari keresahan masyarakat dan mahasiswa melihat kondisi kepolisian yang dinilainya tidak pernah berbenah.
"Terbukti dari
banyaknya tragedi kemanusiaan yang disebabkan oleh kepolisian. Oleh karenanya
di sini kita berangkat dari keresahan masyarakat dan mahasiswa untuk
menyuarakan bahwa reformasi Polri itu hal yang sudah harus dilakukan
sekarang," kata Athof, sapaannya.
Lebih lanjut Athof mengatakan, kegiatan aksi ini akan diikuti sebanyak 500 mahasiswa UI menggunakan 10 bus plus dua angkot, dan telah berkoordinasi dengan universitas lain. "Beberapa (universitas) juga ada yang konfirmasi akan turun. Cuma data selanjutnya belum bisa kita buka sekarang," kata Athof.
Di Mabes Polri, Athof
mengatakan massa akan membacakan sejumlah tuntutan, namun yang utama dan
menjadi agenda besar mahasiswa adalah menuntut reformasi Polri. "Karena
itu agenda yang sudah tidak bisa ditunda lagi gitu dan bukan sebatas retorika
ya, jadi harus segera dilaksanakan dan transparansinya juga harus ada,"
ucapnya.
Aksi hari ini dipicu
penganiayaan yang dilakukan anggota Brigade Mobil Kepolisian RI atau Brimob
Polri, Brigardir Dua Mesias Siahaya terhadap siswa madrasah tsanawiyah
berinisial Arianto Tawakal (14 tahun) hingga tewas.
Peristiwa itu terjadi
di sekitar Jalan Marren, Kota Tual, Maluku, Kamis, 19 Februari 2026. Arianto
dipukul kepalanya menggunakan helm tajtis yang membuatnya kehilangan kendali
sepeda motornya dan terjatuh. Saat ini, Mesias sudah dipecat oleh Polri. (RED)
.jpg)




0 Komentar